Laman

Blog Archive

Jumat, 06 Mei 2011

berbagi pengalaman

ke panggul-trenggalek
Jan 19, '08 12:13 AM
untuk
2 januari lalu, kami
sekeluarga pergi ke
Trenggalek. Ndoel akhirnya
menikah. Istrinya asal
Trenggalek. Pagi-pagi sekali
kami harus berangkat dari
Surabaya. Habis Subuh.
Sepanjang perjalanan, tak
ada satu pun warung
makan yang buka. Perut
makin keroncongan. Kami
sengaja tidak bawa bekal
sarapan dari rumah. Ribet.
Maka, kami sedia makanan
kecil yang jadi pengganjal
perut untuk sementara.
Tapi, mungkin juga karena
sudah terbiasa sarapan
pagi, tetap saja
berkantong-kantong snack
tak mampu menghentikan
riuh genderang dalam
perut kami. Untungnya,
perutku tidak terlalu rewel,
bisa diajak kompromi.
Setiap kali melakukan
perjalanan ke luar kota,
bisa dipastikan tak ada
jaminan bisa sarapan pagi
seperti di rumah, pukul 6
pagi! Maka dari itu, perutku
sudah terlatih bersabar
setiap kali ke luar kota.
Good stomach!
Qeqeqeqe……
“Nikmati saja
pemandangan sepanjang
perjalanan, perlahan-lahan
pasti nanti sudah lupa
laparnya,” saranku. Trik itu
sudah kubuktikan
kemanjurannya. :P
Mereka pun manut. Tak
lama kemudian, Ayah, Ibu,
mbak Anic, Rizky, Nurul,
dan lik Nik (ibunya Rizky)
sudah kembali ‘segar’.
Saling berceloteh tentang
pemandangan ini-itu, ramai
ngobrol sana-sini, dan
akhirnya benar-benar
melupakan protes si perut
yang minta secepatnya
diisi. :O
Cuaca cukup cerah. Si mas
supir sengaja tidak
menyusuri jalan-jalan
besar. Selain menghindari
macet, katanya, bisa lebih
cepat sampai tujuan.
Baguslah. Lagipula,
pemandangannya lebih
indah. Melewati
persawahan dan kampung-
kampung kecil.
Perjalanan terus
dilanjutkan hingga
memasuki kota
Tulungagung. Masih juga
belum kami temukan
warung makan, sementara
snack bekal kami sudah
akan tandas. Kyaaa………
Ada yang menarik selama
hunting warung makan.
Pertama, kami melewati
sebuah jembatan yang di
kanannya terdapat sebuah
areal pemakaman.
Menurut kabar kabur, di
jembatan dan sekitar areal
pemakaman itu sering
muncul monyet-monyet
dengan jumlah yang tetap
sama setiap tahunnya. Kata
orang-orang, monyet-
monyet itu tidak muncul
setiap waktu. Bisa tiba-tiba
ada, lalu hilang begitu saja.
Monyet-monyet itu pun
makan sesaji, bukan pisang
atau kacang layaknya
monyet pada umumnya.
Orang-orang bilang,
mereka itu monyet-monyet
pesugihan. Hiiiiiii…… Tapi
waktu itu kami tak melihat
mereka seekor pun.
Lalu yang kedua, kami
takjub dengan sebuah
bukit nun jauh di tengah
persawahan. Aku tak
berani bertanya ke si mas
supir, bukit apa itu. Lalu
lintas sedang macet karena
sudah memasuki jam-jam
kepadatan. Tak lama, lik
Nik berceletuk,“Wuih, apik
gununge!” Aku lalu
menimpali, “Ho-oh!”
Semua mata pun langsung
menoleh ke arah bukit itu.
Menit berikutnya, si mas
supir urun kata,“Itu
kuburan Cina, bukan
gunung.” Hah! Cepat-cepat
kurogoh tas pinggangku,
dan ceklik!
Semakin jauh perjalanan,
kami lalu memasuki kota
Kediri. Sebelum akhirnya
menemukan satu warung
makan, kami melewati
sebuah bangunan bergaya
romawi. Seperti gerbang
sebuah kota, tapi sangat
besar. Saat kutanya
bangunan apa itu, si mas
supir menjawab itu
museum-nya kota Kediri.
(sampai di rumah, aku baru
sadar kalau aku tak
memotretnya)
Duh, perutku ternyata
manja jika bersama teman-
teman perut lainnya yang
senasib. Keroncongannya
kian terasa. Tak mau diajak
kompromi lagi.
Kami masih mencari,
mencari, mencari, dan……
stop! Kami melihat sebuah
warung makan yang
sepertinya baru buka. Ada
juga mobil patroli polisi
yang sedang parkir di
depannya. Asumsiku,
menurut pengalaman,
kalau ada polisi yang
nongkrong di sebuah
warung makan, bisa
dikatakan masakan di
warung itu cukup
representatif rasanya.
Maka, kami pun berhenti.
Ah, aku lupa nama
warungnya. Waktu itu Ibu,
mbak Anic, Rizky, aku, lik
Nik, dan si mas supir pesan
nasi pecel. Sedang Ayah
pesan nasi lodeh dan Nurul
pesan sayur asem lauk
ayam goreng. Kulihat si pak
polisi begitu lahap
menghabiskan sarapan
paginya sambil baca koran.
Benar juga, masakan
warung itu tak
mengecewakan lidah kami.
Dan tak lama kemudian,
satu per satu pengunjung
menjubeli warung. Aha!
Perjalanan dilanjutkan.
Gerimis rintik-rintik.
Dengan perut kenyang
sembari melihat keindahan
pemandangan sepanjang
perjalanan benar-benar
mengasyikkan. Hampir
mendekati tempat tujuan,
jalanan mulai naik turun
dengan belokan-belokan
yang cukup tajam. Tapi,
justru kami semakin
excited. Pemandangannya
semakin indah. Suka lihat
film-film kungfu yang
bersetting di perbukitan
berkabut? Nah, seperti
itulah medan yang kami
lalui. Bukit-bukit batu
besar nan hijau yang
diselimuti kabut. Keren
soro! Ada hutan pinus,
yang ternyata baru sampai
di rumah dan dilihat lebih
cermat lagi, getah
pohonnya disadap.
Pukul 11 kami sampai di
desa Panggul. Hujan kecil-
kecil. Jalanan menuju
tempat acara becek. Tapi
tak jadi soal. Kameraku siap
mengabadikan apa saja.
Setelah keluarga Surabaya,
beberapa menit kemudian
keluarga Jogja datang.
Seperti acara reuni
keluarga. Resepsi
pernikahan Ndoel sengaja
disingkat, tanpa ritual ini-
itu. Selain agar tidak
menyalahi syariat, juga
untuk menghemat waktu
agar keluarga Surabaya
dan Jogja gak pulang
terlalu larut karena cuaca
sepertinya tidak bisa
diharapkan akan membaik.
Awan-awan gelap semakin
merapat.
Pukul 3 sore, rombongan
Surabaya dan Jogja
berpamitan pulang.
Sayang, ada hambatan.
Mobil kami terjebak di
tanah becek. Maka para
lelaki di rombongan Jogja
bahu membahu dengan
warga desa mbak Mini, istri
Ndoel, untuk
mengeluarkan mobil kami.
Satu jam!
Sementara para
perempuannya, termasuk
aku, malah asyik berfoto-
foto ria di bukit
persawahan di gerbang
desa mbak Mini. Mumpung
background-nya bagus.
Glek!
Perjalanan kembali ke
Surabaya cukup
melelahkan. Kami tidak se-
excited pas berangkat.
Sesekali melihat
pemandangan luar untuk
menghilangkan rasa pusing
dan mual. Kupikir aku yang
paling kuat staminanya.
Saat yang lain sudah KO,
aku asyik mengagumi
sebuah air terjun yang
mengalir deras saat keluar
dari perbatasan desa
Panggul. Kata si mas supir,
kalau musim kemarau, air
terjun itu tak ada. Maka,
aku pun ce…..
Waduh, baterai kameraku
habis. Gak jadi ce….klik!
Hiks.
Kami sempat berhenti di
pom bensin, karena Ayah
kebelet buang air kecil.
Qeqeqeqe…..
Akhirnya tak cuma Ayah,
semuanya jadi ikut ke toilet
plus cari angin sebentar.
Dan…..huek! Aku KO! Andai
aku tak ikut-ikutan ke
toilet di pom bensin itu,
pasti aku tak mabuk
darat. :C
Sepanjang perjalanan
pulang, mataku terpejam
sampai tiba di depan pagar
rumah. Oya, kecuali pas
lewat jembatan monyet.
Aku terbangun gara-gara
Ibu teriak melihat lima
monyet nangkring di atas
jembatan. Benar, baru
muncul lima ekor!
Perjalanan memang
melelahkan, tapi tak
membuatku kapok. Lain
kali aku akan main ke
Panggul lagi. Baterai
kamera harus full dan
stamina harus lebih oke.
Ada banyak tujuan yang
sudah kuangankan,
termasuk pantai Plang yang
diiming-imingi mbak Mini.
Qeqeqeqeqe…………
awan_gelap.jpg
barisan_bukit.jpg
batas_desa.jpg
benteng_bukit.jpg
bukit_berkabut.jpg
kuburan_cina.jpg
pinus_disadap_
getahnya.jpg
sawah_gerbang_desa.jpg

PANGGUL TANAH KELAHIRAN

Panggul, Trenggalek
Panggul
— Kecamatan —
Peta lokasi Kecamatan
Panggul
Negara
Indonesia
Provinsi
Jawa Timur
Kabupaten
Trenggalek
Pemerintahan
- Camat
-
Luas
- km²
Jumlah penduduk
±72.000
Kepadatan
±500jiwa/km²
Desa/kelurahan
17 desa/kelurahan
Panggul adalah sebuah
kecamatan di Kabupaten
Trenggalek, Provinsi Jawa
Timur, Indonesia.
Batas Wilayah
Sebelah timur:
Kecamatan
Dongko,munjungan
Sebelah utara:
Kecamatan Ngrayun,
kabupaten
Ponorogo,kecamatan
Pule Trenggalek
Sebelah Barat:
Kecamatan Sudimoro,
kabupatenPacitan
Sebelah Selatan:
Samudera Indonesia
Geografis
Geografis : Kecamatan
Panggul terletak 59 km
sebelah barat daya kota
trenggalek,setengah
wilayahnya adalah
pegunungan yang
mengitari dataran
rendah melingkar luas
dari barat , utara ke
timur sampai pantai di
sebelah selatan dan
membentuk lembah
yang luas dengan
teluknya , wilayah tanah
subur mencakup daerah
aliran sungai yang
mengalir sampai
samudra indonesia.
jalur transportasi
menuju tempat tersebut
masih dalam masa
pengembangan seiring
berkembangnya
kebutuhan masyarakat
yang meningkat pesat.
Iklim : Memiliki iklim
tropis pantai, dan
memiliki curah hujan
yang tinggi dikarenakan
wilayahnya adalah
pertemuan Angin Darat
dan Angin laut .
Demografi
Kependudukan
Tipe masyarakatnya jika
dilihat menunjukan
perkembangan pada
gaya hidupnya , karena
semakin lengkap dan
semakin ramai fasilitas
serta Teknologi
Komunikasi dan
Informasi baru di
Kecamatan Panggul
sarana telekomunikasi
telah lengkap seperti
internet, telfon ,HP ,dan
komunikasi radio.
Mata pencaharian
penduduk: Mayoritas
petani , peternak
hewan , nelayan ,
buruh , pedagang, PNS,
wiraswasta , dan lainnya
mencari nafkah dengan
pergi ke daerah
perkotaan.
Telah terdapat banyak
swalayan dan toko-toko
serta kios dan dealer
besar di Wilayahnya.
Kebudayaan masyarakat
sekitar masih memegang
teguh adat istiadat suku
Jawa.
Kepercayaan mayoritas
Islam , aliran kejawen
Perekonomian tergolong
kecamatan yang
memiliki perekonomian
menengah ; pasar
kecamatan panggul
merupakan pasar
dengan perekonomian
terbesar kedua di
kabupaten trenggalek,
dikarenakan daerahnya
strategis terdapat di
perbatasan kabupaten ,
dan dekat dengan
perbatasan propinsi Jawa
timur Dengan Jawa
tengah.
Pendidikan : Sangat
berkembang se-iring
minat masyarakat untuk
sekolah dan sekarang
telah tersebar PAUD ,
TK , SD hampir di semua
pelosoknya,
Pengembangan
pendidikan menengah di
setiap wilayah yang di
selenggarakan negeri
maupun sekolah swasta
juga sekolah satu atap ,
SLTA dalam masa
pengembangan , selain
itu telah hadir juga
sekolah standar
nasional. Hampir semua
pemuda memiliki minat
ke perguruan tinggi.
dilihat dari semua
kebutuhan dalam
pendidikan, kecamatan
panggul berpotensi
besar dalam
perkembangan SDM
pada mesyarakatnya.
Komoditas
pertanian & perkebunan
= padi, Cengkeh,
Singkong, Kelapa ,
kedelai, dilem [Bibit
Parfum], ubi, rempah-
rempah, sayur-sayuran ,
mangga , durian .
peternakan = telur
unggas seperti ayam ,
puyuh , bebek ; sapi
pedaging , kambing
jawa , domba .
perikanan dan kelautan
= lele , nila , gurame,
hasil laut [ikan , cumi-
cumi ,rumput laut]
potensi dari laut
sebenarnya sangat besar
karena tergolong masih
alami selain itu wilayah
laut selatan Di Panggul
merupakan rute migrasi
Ikan Tuna, Mackarel, dan
Ikan Paus dari barat
Samudra Hindia, dan
masih perlu
pengembangan.
pertambangan =
marmer , kapur , pasir
besi .
Kuliner = Sale goreng ,
Nasi tiwul , Brondong
Ketan , Gipang
[makanan ringan dari
beras yang manis]
Potensi Pariwisata
Pantai Pelang : memiliki
potensi pada keasrian
alamnya yang masih
terbalut hutan , selain
itu terdapat air terjun
disebelah barat pantai
yang terlindung
pepohonan , yang
terkenal karena mata
airnya berasal dari
sungai bawah tanah
yang mengalir dari
pegunungan . Pantai
pelang biasa dijadikan
tempat outbound sebab
tempat tersebut sangat
memadai suasananya
yang masih alami
bernuansa deburan
ombak laut selatan.
Pantai Konang : Terletak
di Desa Nglebeng. Pantai
Konang terkenal dengan
pemandangan dan area
pantai yang luas
membentang dari pesisir
tenggara sampai ke
barat laut . bila musim
panas pantai tersebut
indah dengan hiasan
matahari terbenam di
kala sore hari. suasana
pantai begitu indah
karena ombaknya relatif
sedang dan udaranya
segar dengan
beratapkan langit biru.
Pemandangan laut
besuki : terdapat di
wilayah jalur jalan
menuju Pacitan di
sebelah barat.
tempatnya terkenal
dengan pemandangan
laut yang terlihat dari
pegunungan. keindahan
alam dapat dirasakan
bila sejenak
memandangi alam yang
masih terjaga dari atas.
Desa-desa
Kecamatan Panggul
memiliki 17 desa.

Lencana Facebook